Featured Posts

Hash 002 : #Plot Cerita Fiksi by @WindyAriestanty Tertarik dengan pembuatan cerita fiksi? Windy Ariestanty, Editor GagasMedia, penulis Shit Happens, pagi ini berbagi tentang penulisan #Plot. Ikuti ceritanya berikut ini : Selamat pagi semua! Pagi...

Read more

Akhirnya Datang Juga Growing up is sucks. That's what I thought when I was 14, Pikiran itu muncul ketika menyaksikan lelahnya Ayah bekerja mencari nafkah, dan Ibu yang pontang-panting mengurus rumah tangga, Pak Harun,...

Read more

Conversation? What Conversation? Conversation? What Conversation? Okay, here are the facts: 90% lebih pembaca blogpost ini, akan berasal dari link yang saya post di Twitter. So, I'm assuming 90% lebih pembaca pasti sudah mengenal,...

Read more

#001 Intweetview : @Pitra Satvika a.k.a. @Anakcerdas... Pitra Satvika atau yang dulu kita kenal di jagat twitter dengan id @anakcerdas adalah salah satu orang yang berjasa mempopulerkan twitter ke Indonesia dan menjadi influencer munculnya beragam conversation...

Read more

Hash 001 : #Copywriting by @Subiakto Priosoedarsono Untuk kesempatan kali ini, Lampu Biru menampilkan catatan seputar area #copywriting di dunia advertising yang disampaikan oleh Bapak @Subiakto, Presiden Direktur Hotline Advertising melalui account Twitternya. Atas...

Read more

Di Sudut Ruang Tunggu Ujian…~

Posted by The Observer | Posted in Penting aja | Posted on 27-08-2009

Tags: ,

3

Jadi..misi utama blog ini dibuat adalah untuk menampung ide-ide yang kelewat ga penting.. Dan saya harap postingan kali ini masi sama ga pentingnya ama yang sebelum-sebelumnya…

Dua hari lalu ,,sambil nunggu ujian masuk akselerasi S2, iseng-iseng saya baca koran berbahasa Inggris ternama di Indonesia..The Jakarta Post..

Halaman 1…ga menarik..halaman 2..lumayan..berlanjut akhirnya sampai saya ke halaman editorial..halaman favorit saya tiap baca koran.. (yah,,editorial nomer satulah, baru abis gitu halaman lowongan kerja rangking duanya)

Ada bacaan yang bener-bener menarik..berikut saya lampirkan…

The Jakarta Post
Tuesday, August 25, 2009

Editorial: Stop hate speech

As we welcome the police’s decision to drop their plan to
monitor religious sermons for radical content, we are still left
with one unanswered and fundamental question: What to do with
hate sermons? We certainly can’t ignore them.

Some of the hatred and violent teachings that have led to young
people becoming involved in terrorist activities, including
suicide bombings, originated from mosques, hence the plan to
monitor sermons. Police are simply trying to enforce article 156
of the Criminal Code that stipulates that anyone delivering hate
speeches can be jailed for up to four years.

This inevitably brings us to the question of the freedom of
expression, which is guaranteed by the Constitution, and its
limits, one of them being the law against hate speech. How do we
enforce this law without violating people’s right to free speech?

Society certainly cannot remain silent in the face of the
growing influence of violent ideologies that preach hatred and
encourage people to attack others on the grounds of their race,
ethnicity, religion, gender, sexual-orientation or economic
class.

If there is one big lesson that we take from the devastating
twin bomb attacks in two Jakarta hotels last month, it is that
we as a nation have become too lenient in the face of such
barbaric acts, and this has sent the wrong message to those
engaged in hate speech and the spread of violent ideologies to
continue on their radical path.

Instead of an outright condemnation, President Susilo Bambang
Yudhoyono publicly claimed that he was being targeted by
terrorists, while others tried to pin the blame on the
deterioration of socio-economic conditions that make society a
breeding ground for radical Islamic teachings and terrorism.

At the very least, police have been bold enough to claim that
part of the problem can be sourced to mosques where violent
ideologies and hatred are being freely discussed.

The idea of police vetting religious sermons however is as
abhorrent as the violent messages they seek to prevent. During
the Soeharto regime, many preachers were jailed for advocating
hatred, not so much against other religions as against the
government. The police then were nothing more than an oppressive
tool used to sustain the violent regime.

There is nothing fundamentally wrong with article 156 of the
Criminal Code. Every nation – and especially one as racially,
ethnically and religiously diverse as Indonesia -needs a law to
deal with hate speeches. The article only became notorious
because it was widely abused by Soeharto for more than 30 years.

Rather than relying on the police, this time around, members of
the public should be encouraged to report hate speeches. This is
part of their civic duty as much as their obligation to report
on suspicious activities in their neighborhood. Let the court
decide when free speech crosses the limit of tolerance and
becomes hate speech.

Our best insurance against the spread of violent teaching and
hatred is not the court, but our education system, and in a
democracy, by using free speech to fight hate speech. Our
society is mature and wise enough to tell what’s right and wrong.

——————————————————————————————————-
Saya ga bisa lebi setuju lagi…
Coba perhatiin paragraf terakhir… cara terbaik buat mencegah ”virus kebencian” bukan dengan membungkam atau memberi batasan bicaraa ke orang-orang. Cara yang paling oke ya dengan menggunakan FREE SPEECH…

Coba kita menelusuri jejak ingatan kita waktu SD dulu– waktu kita dijejelin ama pasal-pasal UUD…ada kan yang namanya kebebasan berpendapat, berserikat dan berkumpul?

Mereka-mereka yang melaksanakan hate speech ini emang ga ngelanggar pasal apapun..justru itulah keahlian mereka..cari celah. Tapi kita ga hole kalah pinter dong. Kalo kita buru-buru bikin aturan yang mengesankan negara itu ngelanggar hak berbicara rakyatnya, jatuhnya malah jelek tar citra si pemerintah (menerapkan prinsip komunikasi PR)… pan kita-kita juga masi taruma noh ama pembredelan dan pengekangan kebebasan bicara. Kalo tar ada oknum-oknum jahat yang manfaatin peraturan itu untuk membungkam kebebasan bicara secara umum gimana?

Makanya… Kenapa ga kita didik masyarakat lewat iklan-iklan televisi, atau drama-drama parodi di radio, terus bikin kampanya-kampanye seru yang menyisipkan pesan ”jangan terkecoh sama mulut-berbisa-para-hate-speaker”. It spends money for sure. Karena bikin iklan yang kreatif (yang bukan ala iklan layanan masyarakat yang selama ini beredar ya…) itu ga murah. Belum lagi air timenya harus banyak biar tiap lapisan maysrakat sering disuguhi ama iklan-iklan pemerintah ini.

Hahaha…ini cuman pendapat saya aja loh…

Btw,,postingan kali ini keliatan banyak dan keren gara-gara copy-paste artikel ini…hahhaha…*ketawa curang…

Yah.. saya sebagai WNI yang alim, baik hati, jujur dan rajin jebolin tabungan cuman berharap masyarakat kita makin pintar dan pemerintah kita ambil sikap yang tepat. Karena masyarakat kita itu sebenernya gampang kok diarahin..asal dengan cara yang halus, dan ga berasa lagi diarahin aja.

Oh iya…selamat kembali ke pangkuan ibu pertiwi wahai Majikan LB… maaf saya harus bolong-bolong postingnya. Minggu depan ada setan jempol menanti untuk ditulis…hehehe

Salam,

The observer

Hongkong Under Koper

Posted by Nico | Posted in Sama Sekali Ga Penting | Posted on 24-08-2009

Tags: , ,

5

TKP (Tempat Kejadian Penukaran)

TKP (Tempat Kejadian Penukaran)

Setelah sekian lamanya ndeso, ceritanya minggu kemarin saya berkesempatan mengunjungi kampung halaman leluhur di negara tirai bambu..

Pesawat Garuda Indonesia tipe baru dengan selamat dan sukses memindahkan saya ke kerajaan sumpit tersebut dalam 4 setengah jam. (mungkin kedengeran ndeso banget, tapi seumur umur baru kali ini naik pesawat yang ada monitor di setiap tempat duduknya… Cihuy dah..). Satu2nya yang mengurangi keasyikan terbang kali itu cuma makanannya yang kurang nyangkut di leher.

… Maklum lidah warteg…

Waktu menunjukkan pukul 2 WIB (atau jam 3 waktu Hongkong)

dan wajah saya menunjukkan raut wajah ndeso ketika kami tiba di HK bersama rombongan TKW yang kebingungan (sama koq Mbak, saya juga baru pertama kalinya, jadi pelan2 aja yah masuknya.. Lho? Koq kedengerannya jadi cabul gini?)

…Tapi tentu aja, ndeso pun harus tetep profesional. (dan ganteng, tentunya). Jadi ketika salah satu TKW bertanya “nanti tinggal di mana Mas?”, dengan bangganya saya bilang “Shaolin”.

Dia mengernyitkan dahi, antara ga ngerti, ga percaya, atau bau mulut saya emang lagi dahsyat-dahsyatnya.

(NB : Shaolin adalah perguruan kungfu yang ngetop di China, bukan nama hotel. saya jawab itu soalnya ga tau nama tempat lain yg kedengeran keren… Jelas saya nggak ke sono)

… Emangnya mo jadi Jet Lee? Ogah! Ntar rambut yang indah ini harus dibuang (sambil mengibaskan poni ala gadis sunsilk)

Mau tau kesan pertama yang saya dapatkan begitu tiba di Hongkong? Toiletnya GUEDEE! Yah u know lah, segala hal harus diawali dan diakhiri oleh… Toilet.

Ga percaya?

Mau meeting? .. Ke toilet dulu pipis n rapiin dasi

Selesai meeting? .. Ke toilet lagi rapiin celana (loh meeting apaan tadi?)

Mau makan? .. Ke toilet dulu cuci tangan

Selesai makan? .. Ke toilet lagi bongkar muatan

Mau tidur? .. Ke toilet dulu numpang ngeflush

Bangun tidur? .. Ke toilet lagi ngeflush lagi.

Jadi wajar donk, kalo 1st impression datangnya dari toilet? Impresi kedua, datang dari supir angkutan yang kami tumpangi menuju perbatasan Hongkong-China.

Yang ternyata Galak..

Hehehe, ngga peduli dikau turis, pebisnis gede, ataupun anak gubernur.. Di sini ikuti aturan sini. kebetulan satu mobil dengan saya adalah orang Indonesia yang ngobrol2 dengan suara cukup maksimal. Alhasil dibentak lah kami. (yup, kami, karena saya ikutan nimbrung in the end)

Akhirnya kira2 jam 5 sore kami tiba di hotel di daerah Shen Zhen. Provinsi Guang Dong, salah satu daerah yang paling maju di daratan China. Sampai saat menulis tulisan ini, saya masih menginap di sana. Apa nama hotelnya? Ngga tau, ga bisa baca tulisan dewa. ;p

Lalu sadarlah saya, telah membuat kesalahan besar di hari naas itu…

Koper saya TERTUKAR!!!!

Gile ini koper bentuk n warnanya sama persis, satu pesawat lagi sama koperku. Tapi begitu dicek isinya… Lha koq ada pembalut segala? (sempet ngecek jenis kelamin sebentar saat itu)

Okay genius… Now what?

Dengan panik, saya terbang kembali ke Hongkong, ambil kembali koper saya, terbang ke Beijing, nganterin koper yang ketuker, makan malam. Kemudian terbang lagi ke Shen Zhen dan langsung mandi… Trus bobo.

Ya cuma abis duit kira2 800 Yuan (sekitar 1,2 juta) lah. Besoknya di Hongkong International Airport sudah terpampang seperti ini :

WANTED!

WANTED!

… Tapi untungnya cerita ketinggalan koper di China nggak perlu serumit dan semahal itu. (Dan yang di Foto itu bukan Mbah Surip!)

Berkat kesigapan tim Garuda Indonesia, koper saya yang 95% berisi barang2 ga penting itu berhasil ditemukan. Berhubung sudah ngga sempet lagi balik ke hongkong untuk mengambil koper itu(dan ga mau buang2 duit) akhirnya diputuskan bahwa dia terpaksa dirawat inap di imigrasi Hongkong sampai batas waktu yg tidak ditentukan.

Eh nggak ding, sampai saya balik Indo lagi dong. Alhasil malam itu diisi dengan belanja baju backup, celana backup dan tentu aja.. Kolor backup.

What a wonderful day.

Pertama kalinya saya ke China, dan kenangan di malam yang pertama adalah membeli kolor calvin klein pake bahasa isyarat. Paling ribet waktu spg nya nanya ukuran, gimana ya ngedeskripsiinnya? “Segini loh mbak…” Dia manggut2. Wah kl ntar tiba2 napsu bahaya dong? (..buat dia)

Inilah bukti pentingnya belajar bahasa Mandarin sejak kecil. Ni pu ce tau se ma se hou se’ cung ni te ‘Kolor’ (U never know when you lose your kolor).

Untunglah tujuan perjalanan nggak jadi sia-sia hanya gara-gara insiden gak penting ini. Sukses!!

(…bersambung)

online online…

Posted by tambeng | Posted in Sama Sekali Ga Penting | Posted on 18-08-2009

2

Panik meresepkan blog ini kepada saya, berhubung sakit ingatan “Lupaenza Akutisme” yang melanda diri ini maka baru sekarang lampubiru.com saya buka, isinya…penting ga penting yang penting…penting banget!! Terima kasih Panik, Terima Kasih pundi amal SCTV, dengan bantuan blog ini saya dapat menulis sampai jari saya bengkak dan laptop meledak.

Sebetulnya saya suka menulis di Facebook, tapi berhubung banyak sekali tulisan saya yang menuai komen “ah, ga penting”, jadi saya putuskan saja hijrah kedalam blog ini, gimana? Enak toh, mantep toh? Mbah Surip menjawab “betul sekali Dik Icut..HA HA HA” sambil sesekali menyeruput kopi hitam dengan merk yang ditutupi lakban hitam, tentunya karena merk tersebut bukan sponsor.

Sebagai kawula muda yang berbakti pada pergaulan dan teknologi, saya memiliki kepekaan terhadap situs-situs jejaring sosial yang banyak digunakan teman sepermainan, bukan karena kebutuhan tetapi lebih keterpaksaan sosial untuk terus update dan akhirnya menjadi pecandu online.

Ceritanya, seorang teman yang juga pemakai mengenalkan saya dengan Facebook, awalnya saya malu-malu… dia tampak begitu ramah, supel, saya agak ragu sembari melangkah mundur kemudian dia memegang tangan saya, mengatakan “tidak perlu takut Dik Icut, bergabunglah denganku, pijit tombol signing in itu”, selanjutnya yang saya tahu dia telah menjadi bagian dari kehidupan saya, oh Facebook….

Teman saya itu, sebut saja “Mawar” bukan nama sebenarnya, karena namanya ialah Citra, dia yang mengajak saya menjadi seorang pecandu Facebook, kembali mendatangi saya beberapa bulan yang lalu untuk memperkenalkan ‘barang’ baru, yakni Twitter. Dia berkata kepada saya bahwa ini lebih dahsyat, hampir setiap pemilik BB mengetahuinya dan lebih mendunia.

Termakan bujukannya, sebulan yang lalu saya menggunakan Twittter dan hari ini saya benar-benar muak, saya tidak menggunakan BB ataupun Iphone, mungkin karena itu saya muak, kebayang kan kalau harus update status 24 jam sehari dengan berlari-lari ke warnet, merogoh kocek dalam-dalam karena tidak mungkin ke warnet tanpa membuka Facebook, Google, Kaskus, Yahoo dan Twitter yang sungguh tingkat kepentingannya berada di titik 0, amit-amiit.

Menyambut Hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada Tanggal 17 Agustus kemarin, maka hari ini saya canangkan sebagai hari kemerdekaan saya, online bukan menjadi bagian hidup saya lagi, saya harus bersih dari segala bentuk kecanduan memijit tombol log in dan log out, serta… eh, maaf..teman saya ngasih comment di wall nih, see you…MERDEKA!!!!

Merdeka dari Penjara SARA…

Posted by The Observer | Posted in PALING PENTING! | Posted on 17-08-2009

Tags: , ,

6

Akhirnya…hasrat ingin menorehkan jejak pada tanggal 17 Agustus ternyata berbuah hasil, walaupun ga gampang melewati cobaan menulis kali ini…

Jadi begini,

Malam menjelang tanggal 17 Agustus 2009, seorang teman menyuarakan pandapatnya melalui status update Facebook demikian:

“Masih relevan ga sih kita tereak tereak MERDEKA,MERDEKA di 17-an masa sekarang??”
Nah loh..karna waktu itu gw harus segera menjemput mami saya di apartemen, jadi cuma sempet pencet tombol “like” aja di statusnya. Niatnya si mau comment trus skalian minta  ijin bikin notes tentang itu. gw putuskan malemnya aja untuk bkin tulisan itu sepulang dari apartemen. Dan ternyata….gw keduluan saudara…!

Seorang teman SUDAH bikin notes tentang itu duluan dan temanya SAMA
Ea…~
Semangat menulis mulai hilang….luntur…

Ihiks..

Jadi sbenernya waktu temen gw ini updates status ini, gw tiba2 jadi keinget status update temen gw yang lain yang berhubungan ama status temen gw yang pertama. Jadi beberapa hari yang lalu dia bilang gini di status dia:
”Itu Take Him Out bisa milih si Choky Sitohangnya gak ??? kalo bisa maybe gw mau daftar”

Trus tiba2 nongol lah satu comment dari temennya temen gw ini yang bikin gw naik darah
“Sama tiko mau?”

Wow… entah kenapa gw sakit ati banget dan merasa orang yang kasi comment macem gini tu ga bisa banget didiemin gitu aja. Berniat ngebales, tapi tar gw sama aja levelnya ama orang macem itu. Ga de. Makasi.

Oiya, buat yang ga ngerti, tiko itu sebutan kasar dari suku tionghoa untuk menyebut kaum pribumi. Mungkin ini dia yang dirasain sama orang-orang dari suku tiongoha waktu mereka dipanggil dengan julukan (maaf) Cina. Atau orang-orang dari suku ambon waktu mereka dijuluki (maaf) Ambon. Sangat ga nyaman.

Uda 64 taon alias 23360 hari sejak kita harusnya uda terbebas dari penjajahan ideologis dan system politik Belanda yang meng”kasta” kan ras manusia di Indonesia. Tapi TERNYATA masi ada manusia dengan tingkat pendidikan yang menurut gw lumayan tinggi, dan SEHARUSNYA paham tentang konsep BHINEKA TUNGGAL IKA yang bilang hal macem itu.

Bukan berarti orang-orang dari suku pribumi ga punya sebutan kasar untuk masing-masing suku lain, tapi kejadian inilah yang bener-bener ngebuka mata gw dan bikin gw semangat nulis untuk menyuarakan pendapat gw tentang perbedaan budaya…(yeah..!)

Seorang dosen intercultural communication yang gw anggep jenius dan punya konsep berpikir yang menurut gw agak ajaib sering ngajarin kita tentang fungsi acceptance dalam intercultural learning. Sering beliau bilang:
“Stating we are all equal and al the same is nonsense. We are different. And we have to accept the differences due to learning other’s culture. Acceptance is the key to understanding culture, by understanding culture we are very close to the peace.”


Awesome… kita MEMANG berbeda, tapi bukan berarti kita berhak membeda-bedakan dengan cara pandang dan stereotype kita masing-masing. Bukan berarti kita berhak mengklasifikasikan ras atau suku kita (secara keseluruhan) lebih unggul dari suku lain. LET’S STOP THOSE HABITS!

Zamannya chauvinism yang berujung ke genoside uda lewat cuy..! Liat dong kiprah pemuda-pemudi lain di sekitar kita yang jadi aktivis Indonesia Unite, Merah Putih, dll. Mereka bersatu dalam melodi…! eh..kok?hehe..uda mule ngelantur… Mari buang jauh-jauh kebiasaan memecah belah bangsa sendiri…hokeee??
Singkat cerita, merujuk pada quotes pertama (ceilah..),

“Masih relevan ga sih kita tereak tereak MERDEKA,MERDEKA di 17-an masa sekarang??”

Maka jawaban gw, masih. Karena kita masih harus berjuang dan terus mengobarkan semangat untuk memerdekakan diri dari pengkotak-kotakan SARA dengan terus nyebutin merdeka..! Biar mereka semua yang seolah-olah mengerti tentang persatuan dan kesatuan secara teori bisa bener-bener apply itu di kehidupan nyata mereka dan biar mereka inget, nenek moyang kita berjuang bersama ampe meninggal dunia TANPA “merasa” lebih berjasa daripada yang lain atau “merasa” lebih baik dari yang lain.

Salam Merdeka!