3
bukan berita baru kalo ibukota jakarta kita tercinta memang padet sepadet-padetnya..
semua suku ada disini, semua kerjaan ada disini, semua barang ada disini..dari yang murah mahal, bersih kotor, bekas baru*agak ga nyambung emang*
tapi satu hal yang jarang sekali ada di jakarta yakni adalah……
KEPEDULIAN SOSIAL..
bukan sok jadi malaikat bukan sok jadi pengkritik masalah sosial..
tapi ini adalah output selama mikir berhari-hari dari pengalaman sendiri..
HAH…
saya adalah seorang petualang sejati di rimba jakarta yang setiap hari nya memakai bus yang paling elit sejakarta:)
setiap hari saya melihat kelakuan orang-orang di dalam bus tersebut dan PERCAYALAH SAUDARA!!!mereka aneh dalam cara mereka masing-masing..
di bus ada yang duduk tegak,,duduk nyantai,,duduk makan tempat,,duduk sambil tidur dan lain-lain..yang berdiri ga kalah beragam ada yang nyender kaya orang ga punya tulang,,ada yang berdiri sambil angguk-angguk kepala*karena lagi dengerin musik*,, ada juga yang mencoba adegan berbahaya yakni tidur sambil berdiri.
nah,,spesifikasi masalah sosial yang ingin saya bahas disini pada hari ini adalah yang terjadi kepada orang-orang yang berdiri di dalam bus paling elit di Jakarta tersebut, dan bukan masalah bagaimana mereka berdiri.
jadi begini,,sewaktu pagi ketika saya mau berangkat ke kampus,,saya kebetulan tidak dapet tempat duduk (kebetulan merupakan kosakata sarkastik dalam kalimat ini-.-”), jadi lah saya berdiri dengan cantik di samping seorang wanita yang sudah cukup dewasa..
dia berdiri di bagian belakang bus, berpegangan pada tiang yang ada namun berdiri agak jauh dari tiang tersebut*sekitar setengah lancang kanan lebih sedikit-.-” *
logika nya, jarak antara wanita dan tiang tempat ia berpegang itu bisa di huni oleh satu orang dengan ukuran badan relatif standart, namun berhubung saya malas ke belakang, dan berhubung saya merasa belum perlu ada yang disana,,saya diam saja..
sampai ketika di stasiun pemberhentian berikutnya, datang lah seorang mba-mba usia terbilang muda dengan barang bawaan segudang..dia berdiri di antara saya dan wanita tersebut..*kasian mba-mba nya,,kejepit kaya sarden*
MENURUT saya,, sudah seharusnya dan sepantas nya bagi si wanita tersebut untuk memindahkan badannya agak mendekat ke tiang, sehingga si mba itu tidak terjepit di antara saya dan si wanita tersebut..mengingat sebelah saya yang lain uda padet sama orang-orang yang bergelantungan.
namun
2 menit berlalu dengan keadaan krik krik..si wanita tiang tidak juga berpindah tempat..
5 menit masih dengan posisi yang sama..
akhir nya saya ga tahan dengan keadaan jepit-menjepit itu dan saya akhirnya noel si wanita tiang..
“mba,,bisa geseran dikit ga kesana*seraya menunjuk ke tiang*?”, kata saya pada wanita tiang
dan tebak donk dia ngomong apa…
“emank kenapa?*dengan tampangnya yang uda di tekuk 10 kali”
saya pun bilang: “kan kasian mba nya kejepit”
si wanita tiang itu pun menjawab lagi: “ya uda..suru aja mba nya pindah,kenapa harus saya?”
NGEK NGOK!!!!!
seketika saya cuma bisa melonggo melihat kelakuan si wanita tiang..
pesan moral yang saia ingin bagi dengan kalian disini adalah..*hahaha,,pesan moral*
koq bisa ya seseorang bisa seperti si wanita tiang..sebenar nya kalo saya mau bersikap adil..ya memang..tinggal saya suru aja si mba barang banyak untuk pindah ke belakang.toh dia yang paling terakhir memasuki kawasan saya dan si wanita tiang..
namun setelah saya mendapati si wanita tiang berkata seperti itu,,saya jadi “memihak” ke si mba barang banyak.
apakah memang si wanita tiang terlalu lelah untuk bergeser?bahkan untuk kenyamanannya sendiri.
mana ya karakteristik orang indonesia yang selalu ada di pelajaran ppkn,plkj dan bahasa indonesia semasa saya SD yang bilang orang indonesia itu ramah-tamah,dan suka menolong..
yang saya lihat ketika itu adalah seseorang yang jutek judes mau menang sendiri..
saia ga menyalahkan si wanita tiang atau membela si mba barang banyak..
saya hanya prihatin..
di sebuah ibukota yang pastinya merupakan kota besar,,terjadi hal seperti ini,,
seharusnya kota besar kan dipenuhi dengan orang yang open-minded, tidak egois atau setidak nya memiliki nalar yang lebih baik daripada di kota-kota kecil.*atau nalar saya yang berbanding terbalik dengan orang0orang?*
si wanita tiang seharusnya dapat berbaik hati lah mengikuti nalarnya sebagai manusia yang berhati untuk bergeser membagi tempat kepada si mba barang banyak..
tapi mana??mana orang-orang indonesia yang katanya baik ramah suka menolong dan lain2??
apa memang ibukota kita mengajarkan kita untuk struggle sendiri tanpa mikirin orang lain,,untuk meng-skip kebutuhan orang lain demi kenyaman diri sendiri..
ibukota menjadi ibu tiri di beragam hal..
cerita si wanita tiang dan mba barang banyak hanya sebuah potret kecil yang kejam dari kota jakarta kita yang megah ini..
sebuah cerita mengenai hilangnya kepedulian sosial di jakarta raya..*sigh*
semoga tulisan saya kali ini bisa membuat kita semakin berbobot yagh..walaupun memang ga penting…
tapi bener degh..hal yang semakin ga penting kelihatannya akan terlihat sangat penting tergantung bagaimana kita melihat nya:p
peace out yo!!
NB: agak diluar konteks tapi hari ini saya baru tau saya ga suka abon ayam..YAIKZZZ

