Meraba-raba Nama
Posted by Ardi Uchida | Posted in Updates | Posted on 17-01-2010
Tags: Nama; Orang Jepang; Uchida
1
Kata Shakespeare (yang pasti lo bosan banget), apalah arti sebuah nama? Eit, tapi ternyata nama tuh penting banget *padahal ini blog buat yang nggak penting, hehe. Kenapa?
Satu, para tetua dan mbah Roso bilang, nama kita adalah doa orangtua. Misalnya, tetangga gue yang ngasi nama anaknya, Untung. Ya sudah pasti tetangga gue itu berdoa agar anaknya untung terus, banyak dapat rejeki. Tapi, ada kalanya “doa yang disisipkan” itu nggak manjur. Maunya untung, malah buntung alias anak itu mendapat kesialan. Tapi, ini nggak gue bahas dulu. Soalnya, contoh orang dengan nama “versus” (untung jadi buntung ini) belum memberikan izin ceritanya ditulis di sini.
Dua, orangtua menamai anaknya agar terkesan keren. Misalnya, Michael Bernard. Dipanggil Mike atau Bern, yang notabene mirip orang Eropa. Tapi, perawakannya justru sangat orang timur Indonesia—kulit gosong, rambut kriwil. Gayanya? Sama sekali tidak keren—baju monyet dengan warna tabrak lari, celana ngatung, sandal jepit merek “telan”, tas selempang, dan… asesoris bling-bling. Percaya nggak percaya, orang ini pernah dan masih hidup di zaman ini.
Ketiga, orangtua ingin eksis (baca: namanya diingat sebagai nenek moyang, kakek buyut oleh cucu-cicit-piyutnya). Nah, kasus ini terjadi dengan gue. Perkenalkan, nama gue, Ardi Uchida. Nama terakhir ini tentu diambil dari nama bokap. Awalnya, gue bangga banget menggunakan nama ini. Dalam bayangan gue, Uchida bisa jadi salah satu nama klan samurai keren di zaman Matsumoto dan Nobunaga. Yah, setidaknya yang gue tahu, Uchida adalah merek elektronik dari Jepang. Ingat iklan, “AC Uchida? Suejuk! Suejuk!” itu lhoo… tapi, pas gue telusuri lebih panjang kali lebar sama dengan luas persegi, Uchida hanya nama belakang biasa, umum di mata orang Jepang.
Jelas gue nggak terima. Gue coba chatting dengan orang-orang Jepang, yang anehnya pada nggak mau kenalan sama gue begitu tahu nama belakang ini. Usut punya usut, Uchida ternyata nama keluarga berpengaruh dalam tatanan YAKUZA! Waduh. Parahnya lagi, karena rasa “namaisme” yang terlalu besar pas chatting, mereka “menandai” gue. Kalau menurut Twilight, di-imprint lah, hehe. Prosesnya gue nggak tahu, missing link. Ujung-ujungnya, ada e-mail tak dikenal berisi ancaman mengerikan dalam bahasa Jepang, yang kira-kira berarti, “kalau lo pernah mimpi mati, saatnya ini jadi kenyataan”. Mules gue.
Sejak itu, gue nggak pernah buka e-mail itu lagi atau nyebut-nyebut nama Uchida. Karena sudah… sekitar 6 tahun berlalu—waktu itu gue umur 17-18 tahun—kini gue memberanikan diri memakai nama itu lagi. Apa pasal? Gue mau menyelidiki kembali, asal-usul nama itu. Jangan-jangan emang bokap gue Yakuza? Yah, we never know.
Intinya, nama bisa mengandung banyak arti, banyak cerita. Nama juga merupakan jati diri, identifikasi pertama dari orang-orang atas diri kita. Barangkali ada di antara kalian yang bernama Ryan, yah… pasti akan jadi korban stereotipe “gay/psycho” karena kasus Ryan, lelaki sesama jenis pembunuh mutilasi itu. Beda lagi kalau namanya Angelina Jolie, pasti akan dihubung-hubungkan dengan keseksian bibir dan kemolekan tubuh sang artis Hollywood. Masih enak kalau mirip. Kalau beda 180 derajat ‘kan gawat—nama Angelina Jolie, tapi bertompel dan jorok pula—cabe semua nyangkut di gigi. Ini mengacaukan frame of reference dalam otak orang-orang. Kasihan mereka.
Nama Ardi Uchida pun begitu. Ada stereotipe di dalamnya. Mungkin kalian membayangkan saya bertampang orang Jepang. Mata sipit-sipit-belo dengan kelopak yang jarang, kulit putih, berat proporsional, dan tinggi standar. Sifat pekerja keras, pelit, sangat sopan dan hormat. Nyatanya, justru kebalikan—mata belo-belo-sipit, kulit sawo matang, gendut, dan pendek. Sifat pemalas, royal, dan sering ngecengin orang.
Pertanyaannya, stereotipe seperti apa yang sering kalian terima? Apakah sesuai dengan fisik dan kepribadian, atau kebalikannya? Nah, coba berikan komentarmu. Dimulai dari sekarang.



