Featured Posts

Hash 002 : #Plot Cerita Fiksi by @WindyAriestanty Tertarik dengan pembuatan cerita fiksi? Windy Ariestanty, Editor GagasMedia, penulis Shit Happens, pagi ini berbagi tentang penulisan #Plot. Ikuti ceritanya berikut ini : Selamat pagi semua! Pagi...

Read more

Akhirnya Datang Juga Growing up is sucks. That's what I thought when I was 14, Pikiran itu muncul ketika menyaksikan lelahnya Ayah bekerja mencari nafkah, dan Ibu yang pontang-panting mengurus rumah tangga, Pak Harun,...

Read more

Conversation? What Conversation? Conversation? What Conversation? Okay, here are the facts: 90% lebih pembaca blogpost ini, akan berasal dari link yang saya post di Twitter. So, I'm assuming 90% lebih pembaca pasti sudah mengenal,...

Read more

#001 Intweetview : @Pitra Satvika a.k.a. @Anakcerdas... Pitra Satvika atau yang dulu kita kenal di jagat twitter dengan id @anakcerdas adalah salah satu orang yang berjasa mempopulerkan twitter ke Indonesia dan menjadi influencer munculnya beragam conversation...

Read more

Hash 001 : #Copywriting by @Subiakto Priosoedarsono Untuk kesempatan kali ini, Lampu Biru menampilkan catatan seputar area #copywriting di dunia advertising yang disampaikan oleh Bapak @Subiakto, Presiden Direktur Hotline Advertising melalui account Twitternya. Atas...

Read more

Meraba-raba Nama

Posted by Ardi Uchida | Posted in Updates | Posted on 17-01-2010

Tags:

1

Kata Shakespeare (yang pasti lo bosan banget), apalah arti sebuah nama? Eit, tapi ternyata nama tuh penting banget *padahal ini blog buat yang nggak penting, hehe. Kenapa?

Satu, para tetua dan mbah Roso bilang, nama kita adalah doa orangtua. Misalnya, tetangga gue yang ngasi nama anaknya, Untung. Ya sudah pasti tetangga gue itu berdoa agar anaknya untung terus, banyak dapat rejeki. Tapi, ada kalanya “doa yang disisipkan” itu nggak manjur. Maunya untung, malah buntung alias anak itu mendapat kesialan. Tapi, ini nggak gue bahas dulu. Soalnya, contoh orang dengan nama “versus” (untung jadi buntung ini) belum memberikan izin ceritanya ditulis di sini.

Dua, orangtua menamai anaknya agar terkesan keren. Misalnya, Michael Bernard. Dipanggil Mike atau Bern, yang notabene mirip orang Eropa. Tapi, perawakannya justru sangat orang timur Indonesia—kulit gosong, rambut kriwil. Gayanya? Sama sekali tidak keren—baju monyet dengan warna tabrak lari, celana ngatung, sandal jepit merek “telan”, tas selempang, dan… asesoris bling-bling. Percaya nggak percaya, orang ini pernah dan masih hidup di zaman ini.

Ketiga, orangtua ingin eksis (baca: namanya diingat sebagai nenek moyang, kakek buyut oleh cucu-cicit-piyutnya). Nah, kasus ini terjadi dengan gue. Perkenalkan, nama gue, Ardi Uchida. Nama terakhir ini tentu diambil dari nama bokap. Awalnya, gue bangga banget menggunakan nama ini. Dalam bayangan gue, Uchida bisa jadi salah satu nama klan samurai keren di zaman Matsumoto dan Nobunaga. Yah, setidaknya yang gue tahu, Uchida adalah merek elektronik dari Jepang. Ingat iklan, “AC Uchida? Suejuk! Suejuk!” itu lhoo… tapi, pas gue telusuri lebih panjang kali lebar sama dengan luas persegi, Uchida hanya nama belakang biasa, umum di mata orang Jepang.

Jelas gue nggak terima. Gue coba chatting dengan orang-orang Jepang, yang anehnya pada nggak mau kenalan sama gue begitu tahu nama belakang ini. Usut punya usut, Uchida ternyata nama keluarga berpengaruh dalam tatanan YAKUZA! Waduh. Parahnya lagi, karena rasa “namaisme” yang terlalu besar pas chatting, mereka “menandai” gue. Kalau menurut Twilight, di-imprint lah, hehe. Prosesnya gue nggak tahu, missing link. Ujung-ujungnya, ada e-mail tak dikenal berisi ancaman mengerikan dalam bahasa Jepang, yang kira-kira berarti, “kalau lo pernah mimpi mati, saatnya ini jadi kenyataan”. Mules gue.

Sejak itu, gue nggak pernah buka e-mail itu lagi atau nyebut-nyebut nama Uchida. Karena sudah… sekitar 6 tahun berlalu—waktu itu gue umur 17-18 tahun—kini gue memberanikan diri memakai nama itu lagi. Apa pasal? Gue mau menyelidiki kembali, asal-usul nama itu. Jangan-jangan emang bokap gue Yakuza? Yah, we never know.

Intinya, nama bisa mengandung banyak arti, banyak cerita. Nama juga merupakan jati diri, identifikasi pertama dari orang-orang atas diri kita. Barangkali ada di antara kalian yang bernama Ryan, yah… pasti akan jadi korban stereotipe “gay/psycho” karena kasus Ryan, lelaki sesama jenis pembunuh mutilasi itu. Beda lagi kalau namanya Angelina Jolie, pasti akan dihubung-hubungkan dengan keseksian bibir dan kemolekan tubuh sang artis Hollywood. Masih enak kalau mirip. Kalau beda 180 derajat ‘kan gawat—nama Angelina Jolie, tapi bertompel dan jorok pula—cabe semua nyangkut di gigi. Ini mengacaukan frame of reference dalam otak orang-orang. Kasihan mereka.

Nama Ardi Uchida pun begitu. Ada stereotipe di dalamnya. Mungkin kalian membayangkan saya bertampang orang Jepang. Mata sipit-sipit-belo dengan kelopak yang jarang, kulit putih, berat proporsional, dan tinggi standar. Sifat pekerja keras, pelit, sangat sopan dan hormat. Nyatanya, justru kebalikan—mata belo-belo-sipit, kulit sawo matang, gendut, dan pendek. Sifat pemalas, royal, dan sering ngecengin orang.

Pertanyaannya, stereotipe seperti apa yang sering kalian terima? Apakah sesuai dengan fisik dan kepribadian, atau kebalikannya? Nah, coba berikan komentarmu. Dimulai dari sekarang.

No Matter What?

Posted by Nico | Posted in Area Kartun | Posted on 13-01-2010

2

comic001

Re-Introducing Lampu Biru

Posted by Nico | Posted in PALING PENTING! | Posted on 08-01-2010

Tags:

0

Lampu Biru

Duo

Pada awal mulanya, saya sendiri tidak pernah punya definisi khusus saat menamai blog yang sedang Anda baca ini sebagai “Lampu Biru”. Yah, memang di satu sisi saya menyukai warna biru, dan sesuai tagline awalnya, Lampu Merah dan Lampu Hijau sudah ada..

..dalam wujud media cetak tentunya.

Lalu kenapa tidak Lampu Kuning? Nah, begini ceritanya..

Sejak SD, saya diajarkan bahwa Lampu Kuning itu artinya berhati-hati (filosofi perempatan jalan). Dan secara logis, saya yang masih anak-anak itu mengartikan bawa lampu kuning menunjukkan “awas bahaya” di depan.

Filosofi yang kemudian saya bawa hingga saat membuat blog ini. Saking nggak inginnya berhati-hati plus emang saya ngga suka warna kuning, akhirnya dicarilah lawan dari kata “kuning” itu.

“Biru” adalah jawabannya. Klop sudah. Meskipun saat itu (dan hingga sebelum post ini dibuat) defisini dari Lampu Biru sendiri memang belum jelas, saya hanya berharap Lampu Biru dapat menjadi blog yang lugas, to the point, dan bermanfaat.

Konsep awal berupa Personal Journalism ini ternyata hanya bertahan mampu beberapa saat. Tepatnya hanya satu blogpost saja.

jannice oma dan mami dalam acara JJS

Posted by Si Jam Emas | Posted in Rada Penting | Posted on 02-01-2010

2

“hallo,,jannice??oma mau pergi ke mall..jannice mau ikut?”, kata si oma yang baik hati.

“mau oma,,tapi beliin fro-yo ya!”, kata si anak SD kelas 2..

dan si oma cuma bisa benggong..

yap..alih alih ngajakin ponakan jalan-jalan sore di awal tahun baru,,si oma malah kena palak cucu sendiri..haha..tapi jangan sedih.ga sampai disini lah kelakuan si cucu kecil nan imut seperti tantenya ya kan..

sampai di mall,berleha-leha di kedai fro-yo yang memang asoi geboy itu bersama si anak kecil 2 SD yang megang fro-yo size M dengan 2 topping serasa surga dunia nya..

“jan,,ke sogo yuq.” si oma ga kapok ngajak..”oke oma.” jawab si cucu.

“wah oma,sepatu nya bagus-bagus..jan mau beli ah..kata mami kalo pas liburan di s**** ga dapet sepatu,,beli nya di jakarta..kebetulan kita disini..oma..beliin donk” dengan polos nya doi menjawab setelah berkeliling di toko sport yang menjejerkan sepatu-sepatu olahraga beraneka warna..

“buset..jan..bilang mami aja deh kalo mau beli sepatu itu.nih telpon mami” ,si oma nyodorin hape.

sambil asal lewat melakukan window shopping,,hape oma berkali-kali dipinjem sama si jannice,,berusaha membujuk si mami biar sampe..

“waduh..pulsa hape oma habis deh jan..buat telpon mami terus.” si oma ngeluh..

“hape oma bukannya 2??kalo pulsa yang ini habis..kan masi ada yang satu lagi”

si oma pun cenggo