Featured Posts

#365smiles Project Satu kalimat yang paling pantas untuk mengawali artikel ini tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah Sebuah ucapan "HAPPY NEW YEAR 2011" Sebuah awal baru untuk mengawali serangkaian kisah indah,...

Read more

Mencuci itu Perlu Gara-gara tadi pagi ngetweet bahwa buat gue Mencuci itu sama dengan Meditasi, jadinya malah ketemu beberapa filosofi tentang mencuci dan pakaian yang bisa diterapkan dalam suatu hubungan. Jarang-jarang...

Read more

Makin Banyak Persoalan = Makin Banyak Jawaban? [caption id="attachment_227" align="aligncenter" width="280" caption="taken from www.thisnext.com "][/caption] “Gimana caranya masukin gajah ke dalam kulkas?” Buat generasi yang tumbuh di era...

Read more

Mari Menyumbang Tiga bencana yang terjadi dalam waktu berdekatan belakangan ini mengingatkan kita untuk senantiasa waspada dan peduli sebagai sesama manusia. Tim Lampu Biru mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya...

Read more

Keragaman Perayaan Siapa yang 10-10-10 kemarin dapet undangan pernikahan lebih dari satu? Ngacung! Mbok ya saya dibagi gitu.. Soalnya saya satu pun ndak dapet. :( *nangis* Kemungkinannya ada dua sih : Rata-rata...

Read more

Conversation? What Conversation?

Posted by Nico | Posted in Rame Rame, Update | Posted on 15-10-2010

Tags: , ,

0

Okay, here are the facts:

90% lebih pembaca blogpost ini, akan berasal dari link yang saya post di Twitter.

So, I’m assuming 90% lebih pembaca pasti sudah mengenal, menggunakan, dan (mungkin) menyalahgunakan Twitter.

Indonesia sedang menempati urutan pertama untuk urusan jumlah pengguna Twitter.

Tapi dari segi kualitas tweet? Nanti dulu..

Kira-kira (menurut prakiraan saya) beginilah gambaran pengguna twitter dari Indonesia :

  1. Sebagian kecil menggunakannya untuk memperluas pengetahuan dan membaca trend yang sedang in.
  2. Sebagian kecil menggunakannya untuk memperkuat brand. Baik itu corporate branding, consumer branding, maupun personal branding.
  3. Sebagian kecil menggunakannya untuk berbagi dan mendapatkan feedback.
  4. Sebagian BESAR menggunakannya sebagai mesin Chatting raksasa, tanpa menyadari bahwa RT adalah ReTweet dan bukan Reply To (Yep, #classic)

Maka mari kita maklumi bersama, bila Trending Topic dari Indonesia adalah sesuatu yang sudah sangat ‘lazim’ untuk terjadi belakangan ini.

Sering ngeliat yang beginian? :

“Asik. Mwah.. RT @pacarababil: Yg penting quw cinta. RT @ababilkece: ih ga bagi2. @pacarababil: Makan siang dunks. RT @ababilkece: Lagi pain say?”

Iya. Kronologisnya dibaca dari belakang.

Oke deh. Saya juga pernah ngetweet seperti itu. Pada saat awal-awal mengenal twitter dan belum paham betul etika serta konsep RT dan semacamnya.

Dan waktu itu saya pernah ditegur.

Saya pun merespon..

… pakai RT.

Untunglah sekarang saya sudah kembali ke jalan yang benar. Tapi kalo dipikir-pikir, nggak apa-apa lah. Kenapa repot-repot mengendalikan cara orang ngetweet? Selalu ada tombol Unfollow ketika kita sudah cukup paham karakter orang yang kita follow bukan? :)

And here’s also one other fact :

Jika selama ini, Lampu Biru lebih banyak menulis hal-hal tidak penting secara random. Maka mulai akhir Agustus ini, kami akan mencoba merekam hasil pengamatan atas beragam bentuk ‘conversation’ yang terjadi di Twitter.

Not an easy task tentu saja, tapi kami cukup bersemangat untuk mencobanya. Jika ada yang berminat untuk membantu. Wow, dengan senang hati kami terima :) Medium ini memang awalnya diciptakan dari percakapan belaka juga koq.

Untuk memulai, Lampu Biru sudah mengadakan interview dengan salah satu influencer social media di Indonesia, Siapa dia? Lanjutkan di Blog Post berikut. :)

Write a comment