Featured Posts

#365smiles Project Satu kalimat yang paling pantas untuk mengawali artikel ini tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah Sebuah ucapan "HAPPY NEW YEAR 2011" Sebuah awal baru untuk mengawali serangkaian kisah indah,...

Read more

Mencuci itu Perlu Gara-gara tadi pagi ngetweet bahwa buat gue Mencuci itu sama dengan Meditasi, jadinya malah ketemu beberapa filosofi tentang mencuci dan pakaian yang bisa diterapkan dalam suatu hubungan. Jarang-jarang...

Read more

Makin Banyak Persoalan = Makin Banyak Jawaban? [caption id="attachment_227" align="aligncenter" width="280" caption="taken from www.thisnext.com "][/caption] “Gimana caranya masukin gajah ke dalam kulkas?” Buat generasi yang tumbuh di era...

Read more

Mari Menyumbang Tiga bencana yang terjadi dalam waktu berdekatan belakangan ini mengingatkan kita untuk senantiasa waspada dan peduli sebagai sesama manusia. Tim Lampu Biru mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya...

Read more

Keragaman Perayaan Siapa yang 10-10-10 kemarin dapet undangan pernikahan lebih dari satu? Ngacung! Mbok ya saya dibagi gitu.. Soalnya saya satu pun ndak dapet. :( *nangis* Kemungkinannya ada dua sih : Rata-rata...

Read more

Terakhir

Posted by Nico | Posted in #30HariMenulisSuratCinta | Posted on 23-01-2012

Tags:

0

Istriku,

Surat ini kutulis untukmu di masa lalu.

Sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kita yang ke-50.

Terima kasih, untuk semua yang telah kita lewati bersama.

Untuk semua derai tawa,

Saat akhirnya kita mampu memiliki sebuah rumah.

Saat anak-anak kita lulus kuliah.

Dan saat si bungsu akhirnya berumah tangga.

Untuk semua penghiburanmu,

Ketika kita berkabung atas kehilangan orang-orang terdekatku.

Ketika aku jatuh sakit, diobati, hingga kembali sembuh,

Dan untuk tetap berada di sisiku, sekalipun masa jayaku telah berlalu.

Aku sungguh bersyukur, Yang Mahakuasa mempertemukan kita berdua,

Untuk menjalin kisah, dalam bahagia maupun derita.

Kini lima puluh tahun sudah,

Dirimu yang pertama setiap aku membuka mata.

Bukan hanya jalan indah yang pernah kita lalui,

Ada kalanya kita tenggelam di dalam sunyi

Yang diawali rasa ego dan mau menang sendiri,

Tapi tidak pernah sedetik pun aku membenci

Karena kamu adalah satu-satunya pilihanku, yang tidak akan pernah aku sesali.

Istriku,

Maknailah senyumku,

Jika ada hari-hari saat aku tak lagi mampu mengucapkan “I love you”

Maknailah anggukanku,

Jika ada hari ketika dirimu tak lagi mampu mengatakan “I love you too”

Genggamlah tanganku,

Karena kita akan bernyanyi di dalam hati.

Sebuah lagu indah yang kita bangun sendiri.

Aku ingin bersamamu seribu tahun lagi.

Bergandengan tangan, menuju ke altar itu kembali.

Menatapmu, satu-satunya hal yang paling berarti

Mengucapkan “I do” dan membiarkan dunia berhenti.

Kini usia kita sudah memasuki senja,

Mungkin tidak lama lagi waktu kita akan tiba.

Untuk kembali kepada-Nya.

Namun selama masih belum terlambat untuk mengurai makna,

Izinkan aku untuk menyelesaikan semuanya dalam cinta.

Supaya ketika kamu meninggalkanku sendiri di sini,

Aku akan tabah untuk menjalani,

 

Dan jika aku yang ditakdirkan terlebih dahulu menemui-Nya,

Aku akan menunggumu dengan setia di gerbang surga.

 

Happy anniversary, My Love.

Write a comment