Featured Posts

Hash 002 : #Plot Cerita Fiksi by @WindyAriestanty Tertarik dengan pembuatan cerita fiksi? Windy Ariestanty, Editor GagasMedia, penulis Shit Happens, pagi ini berbagi tentang penulisan #Plot. Ikuti ceritanya berikut ini : Selamat pagi semua! Pagi...

Read more

Akhirnya Datang Juga Growing up is sucks. That's what I thought when I was 14, Pikiran itu muncul ketika menyaksikan lelahnya Ayah bekerja mencari nafkah, dan Ibu yang pontang-panting mengurus rumah tangga, Pak Harun,...

Read more

Conversation? What Conversation? Conversation? What Conversation? Okay, here are the facts: 90% lebih pembaca blogpost ini, akan berasal dari link yang saya post di Twitter. So, I'm assuming 90% lebih pembaca pasti sudah mengenal,...

Read more

#001 Intweetview : @Pitra Satvika a.k.a. @Anakcerdas... Pitra Satvika atau yang dulu kita kenal di jagat twitter dengan id @anakcerdas adalah salah satu orang yang berjasa mempopulerkan twitter ke Indonesia dan menjadi influencer munculnya beragam conversation...

Read more

Hash 001 : #Copywriting by @Subiakto Priosoedarsono Untuk kesempatan kali ini, Lampu Biru menampilkan catatan seputar area #copywriting di dunia advertising yang disampaikan oleh Bapak @Subiakto, Presiden Direktur Hotline Advertising melalui account Twitternya. Atas...

Read more

5 Alasan “basi…” Sebagai Alasan Lama Nggak Update BLOG (*uhuk uhuk*)

Posted by Nico | Posted in Rada Penting, Updates | Posted on 15-05-2010

2

Saya yakin…

Bukan.

Saya SANGAT yakin…

Bahwa dari sekian banyak blogger, pasti banyak yang pernah mengalami “Post Lag” sangaaaaatt lamaaaaaa…

Sungguh memalukan memang!

Seperti saya.

Iya kaaan?

Jangan khawatir. Menurut saya, Post Lag itu seperti jerawat. Semua blogger akan mengalaminya. Beberapa diantaranya sering kena (seperti *uhuk* kami) dan beberapa mampu menanggulanginya dengan cara yang tepat dan mampu kembali ke profesi blogger yang sejati.

Seandainya saya bisa begitu..

Nah, eniwei, Biasanya rekan-rekan blogger semua memilih alasan apa saat ditanyain “Kemana aja?” “Eh udah lama ngga ngeblog?” atau yang terparah mungkin.. “Blogger baru ya?” (Untuk pertanyaan terakhir ini jawaban saya jelas “IYA”)

Berdasarkan riset yang saya lakukan (terhadap *uhuk uhuk* diri saya sendiri), inilah 5 jawaban yang paling (tidak) klise untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu :


1. Sibuk

Inilah satu kata singkat yang ajaib untuk menjelaskan sedemikian banyak kemungkinan. Apakah itu sibuk kerja, sibuk jaga toko, sibuk bantuin nyokap, sibuk pindahan, sibuk menyelamatkan dunia dari alien pemakan tumbuhan, hingga sibuk belajar mengendalikan kekuatan super… Semuanya selalu tampak masuk akal bukan?

Sekali-kali coba deh, ketika bos bertanya: “Koq kerjaan kamu belum selesai?”
Jawab dengan mantap : “Lagi sibuk nge-Blog Pak”

You will be surprised.

2. Belum kejatuhan ide / wangsit / inspirasi

Mie pangsit tanpa terasi sih saya tau.

Tapi sayangnya kita bukan sedang membahas kuliner.
Omong-omong soal kuliner, udah pada mampir ke goorme ?

Well, seorang bijak pernah berkata :

Jika Anda menunggu ide yang luar biasa, baru melakukan perbuatan, Anda akan selalu terlambat. Sesuatu yang hebat, biasanya berawal dari ide-ide yang sederhana, namun dieksekusi dengan luar biasa”

Saking bijaknya orang itu, sampai saat ini saya tidak pernah ingat namanya.

Yang pasti dia bukan Mario Tega.

3. Ah, ngga ada juga yang baca koq”

Itulah yang terjadi pada blog ini.

Sungguh.

Ngga ada yang baca blog ini.

Anda mungkin satu-satunya orang yang berbaik hati membaca blog tidak penting ini karena kebetulan link nya saya sertakan di salah satu Tweet kepencet *Iya, saya juga sering punya masalah dengan touchpad koq*

Tapi saya dan beberapa penulis di blog ini akan berusaha terus posting. >insert janji gombal here<

Kenapaa?

Karena kami percaya akan hari depan yang lebih baik..
(
Mata berkaca-kaca, background:debur ombak)

4. Lagi males nulis, cobalah beberapa saat lagi.
(sambil ngeringin rambut gara-gara kesirem debur ombak di no. 3)

Pernah dong, pada suatu hari di kehidupan kita, mau mandi, males; mau kerja, males; bahkan mau ngangkat jari buat membersihkan sisa-sisa makanan di hidung (baca:upil) pun males.

Lah koq jadi curcol?

Kemalasan bisa ditanggulangi nggak sih sebenernya? Kalo ada yang tau jawabannya, tolong dong kirimkan kemari, disertai identitas lengkap dan Kartu Keluarga. (fotokopi Ijazah juga boleh sebagai pelengkap)

Tapi untunglah saya nggak pernah males nulis blog.

Anyway, udah aja ya? Alasannya sampe di sini aja ya? 4 aja udah cukup kan?
(siap-siap shutdown kompie)


5. Dilarang Istri atau Ortu atau Anak atau Agama atau Negara(?)

Mungkin ada pihak-pihak di luar sana yang tidak terima kritikan…

Mungkin ada sebagian orang yang tidak suka dibicarakan…

Mungkin ada Ormas-Ormas yang terlalu keras memperjuangkan sesuatu….

Mungkin ada yang bisa bikin banana cake yang lebih enak dari ini… Puh!! *melepeh kue yang super ga enak*

Tapi…

… Seharusnya tidak ada seorang pun yang melarang siapa pun untuk mengekspresikan perasaan maupun pikirannya. Terlebih melalui BLOG.

Jadi jangan takut..

Jangan menyerah…

dan

JANGAN PERNAH BELI BANANA CAKE DARI TOKO KUE INI!!!!


Ditulis pada suatu hari hujan di musim kemarau.

(Sekarang Anda tau kenapa kami jarang ngeblog)

Meraba-raba Nama

Posted by Ardi Uchida | Posted in Updates | Posted on 17-01-2010

Tags:

1

Kata Shakespeare (yang pasti lo bosan banget), apalah arti sebuah nama? Eit, tapi ternyata nama tuh penting banget *padahal ini blog buat yang nggak penting, hehe. Kenapa?

Satu, para tetua dan mbah Roso bilang, nama kita adalah doa orangtua. Misalnya, tetangga gue yang ngasi nama anaknya, Untung. Ya sudah pasti tetangga gue itu berdoa agar anaknya untung terus, banyak dapat rejeki. Tapi, ada kalanya “doa yang disisipkan” itu nggak manjur. Maunya untung, malah buntung alias anak itu mendapat kesialan. Tapi, ini nggak gue bahas dulu. Soalnya, contoh orang dengan nama “versus” (untung jadi buntung ini) belum memberikan izin ceritanya ditulis di sini.

Dua, orangtua menamai anaknya agar terkesan keren. Misalnya, Michael Bernard. Dipanggil Mike atau Bern, yang notabene mirip orang Eropa. Tapi, perawakannya justru sangat orang timur Indonesia—kulit gosong, rambut kriwil. Gayanya? Sama sekali tidak keren—baju monyet dengan warna tabrak lari, celana ngatung, sandal jepit merek “telan”, tas selempang, dan… asesoris bling-bling. Percaya nggak percaya, orang ini pernah dan masih hidup di zaman ini.

Ketiga, orangtua ingin eksis (baca: namanya diingat sebagai nenek moyang, kakek buyut oleh cucu-cicit-piyutnya). Nah, kasus ini terjadi dengan gue. Perkenalkan, nama gue, Ardi Uchida. Nama terakhir ini tentu diambil dari nama bokap. Awalnya, gue bangga banget menggunakan nama ini. Dalam bayangan gue, Uchida bisa jadi salah satu nama klan samurai keren di zaman Matsumoto dan Nobunaga. Yah, setidaknya yang gue tahu, Uchida adalah merek elektronik dari Jepang. Ingat iklan, “AC Uchida? Suejuk! Suejuk!” itu lhoo… tapi, pas gue telusuri lebih panjang kali lebar sama dengan luas persegi, Uchida hanya nama belakang biasa, umum di mata orang Jepang.

Jelas gue nggak terima. Gue coba chatting dengan orang-orang Jepang, yang anehnya pada nggak mau kenalan sama gue begitu tahu nama belakang ini. Usut punya usut, Uchida ternyata nama keluarga berpengaruh dalam tatanan YAKUZA! Waduh. Parahnya lagi, karena rasa “namaisme” yang terlalu besar pas chatting, mereka “menandai” gue. Kalau menurut Twilight, di-imprint lah, hehe. Prosesnya gue nggak tahu, missing link. Ujung-ujungnya, ada e-mail tak dikenal berisi ancaman mengerikan dalam bahasa Jepang, yang kira-kira berarti, “kalau lo pernah mimpi mati, saatnya ini jadi kenyataan”. Mules gue.

Sejak itu, gue nggak pernah buka e-mail itu lagi atau nyebut-nyebut nama Uchida. Karena sudah… sekitar 6 tahun berlalu—waktu itu gue umur 17-18 tahun—kini gue memberanikan diri memakai nama itu lagi. Apa pasal? Gue mau menyelidiki kembali, asal-usul nama itu. Jangan-jangan emang bokap gue Yakuza? Yah, we never know.

Intinya, nama bisa mengandung banyak arti, banyak cerita. Nama juga merupakan jati diri, identifikasi pertama dari orang-orang atas diri kita. Barangkali ada di antara kalian yang bernama Ryan, yah… pasti akan jadi korban stereotipe “gay/psycho” karena kasus Ryan, lelaki sesama jenis pembunuh mutilasi itu. Beda lagi kalau namanya Angelina Jolie, pasti akan dihubung-hubungkan dengan keseksian bibir dan kemolekan tubuh sang artis Hollywood. Masih enak kalau mirip. Kalau beda 180 derajat ‘kan gawat—nama Angelina Jolie, tapi bertompel dan jorok pula—cabe semua nyangkut di gigi. Ini mengacaukan frame of reference dalam otak orang-orang. Kasihan mereka.

Nama Ardi Uchida pun begitu. Ada stereotipe di dalamnya. Mungkin kalian membayangkan saya bertampang orang Jepang. Mata sipit-sipit-belo dengan kelopak yang jarang, kulit putih, berat proporsional, dan tinggi standar. Sifat pekerja keras, pelit, sangat sopan dan hormat. Nyatanya, justru kebalikan—mata belo-belo-sipit, kulit sawo matang, gendut, dan pendek. Sifat pemalas, royal, dan sering ngecengin orang.

Pertanyaannya, stereotipe seperti apa yang sering kalian terima? Apakah sesuai dengan fisik dan kepribadian, atau kebalikannya? Nah, coba berikan komentarmu. Dimulai dari sekarang.