Kontradiktif: infotainment dan peringatan hari anak
Posted by The Observer | Posted in Rada Penting | Posted on 24-07-2010
Tags: ariel, Hari anak, infotaiment, kontradiktif, media, nasi putih, paspampres, presiden, toyor
1
Salah satu hal yang sering dilupain sama masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupannya adalah dalam hal MENAATI ATURAN. Baik itu aturan tertulis (seperti jangan buang sampah sembarangan) sampai aturan tidak tertulis (seperti jangan ciuman sembarangan).
Sudah ada beberapa tulisan kami tentang ketidak taatan masyarakat Indonesia, coba tengok coretan ‘si jam emas’ dalam ‘ibukotaku ibu tiri’ atau tulisan ‘kotak kuning’ oleh the observer. Belum cukup disitu, saya mau menambah satu daftar lagi: tidak taatnya infotainment.
Tepat kemarin pada hari Jumat, 23 Juli 2010 adalah Hari Anak. Tepat pada hari itu saya dapet curcol soal infotainment dari seorang kolega kantor saya yang sudah punya anak perempuan umur 7 tahun. Berikut cuplikan keluh kesah beliau:
“si Ruping (anaknya si ibu ini, red.) kasihan deh. Minggu lalu saya pulang kantor tiba-tiba dia tanya saya,
Ruping: “Ma, mama tau gak sih si ariel itu kenapa?”
Mrs. X:”(sambil pasang tampang bingung) lhah, emang kenapa si ariel?”
Ruping: “Ruping ga tau, tapi tiap hari ada di tivi tu ma. Emang mama ga tau kenapa?”
Mrs. X:” ya ga taulah mama, kan mama ga pernah nonton tivi”
Ruping: “emang di kantor mama ga ada tivi?”
Mrs. X: “ga adalah. Kalopun ada, mama kan kerja, ga nonton tivi”
Waduh, kasian kan anak-anak kalo begini ya. eh besoknya si Ruping kasi tau saya waktu pulang kantor. Dia bilang gini
Ruping: “ma, Ruping uda tau dari Janet kenapa kok ariel banyak diberitain di tivi.”
Mrs X: “(sambil deg-degan nunggu jawaban) hah? Kenapa emangnya si ariel?”
Ruping: “kata Janet, mamanya bilang kalo ariel waktu itu pernah nyanyi sambil telanjang. Makanya ditangkep polisi ma.”
Mrs. X: “wah gitu ya? ada-ada aja ya si ariel..”
Ah, sudah deg-degan aja saya.. tapi abis gitu si Ruping uda ga pernah tanya lagi, udah bosen katanya. Tiap hari tivi isinya ariel kata Ruping.”
Demikian laporan ibu penggemar lopis ini pada jam makan siang itu.
Ahh… media, seandainya saja mereka taat beretika. Seharusnya untuk tayangan semacam ini, (bersangkutan dengan video porno, pembunuhan, perbuatan asusila, dan tetek bengeknya) ditayangkan pada jam anak-anak sudah tidur lelap. Jam 9 malam katakanlah. Toh ibu-ibu yang butuh hiburan juga masih melek jam segitu. Kenapa infortainment harus takut kehilangan pangsa pasar? Justru kalo dibikin sedikit, barangnya jadi eksklusif : bahasa simpelnya, airtimenya jadi mahal. Iklan2 pada ngantri berani bayar mahal.
Untung saja si Ruping dapet jawaban yang ‘memuaskan’ dari temennya. Kalo ga?
Seandainya media mau mengevaluasi diri. Media massa popular cenderung mengkritisi, tapi kalo dikritik mereka ga bisa denger, karena bagaimanapun media popular seperti televisi itu bentuk komunikasinya searah kan yak (ini sih menurut teori komunikasi yang saya kunyah di bangku panas kuliah lo pemirsa).
Coba tengok kasus penoyoran seorang bocah di hari anak kemarin oleh paspampres. Rumor ini heboh bener dah suaranya di dunia maya, terutama di website favorit kita semua: twitter. Media mempertanyakan komitmen SBY dalam menangani anak-anak Indonesia, karena insiden paspampresnya yang menoyor seorang anak kecil. SBY yang baru aja berkomitmen untuk melindungi anak Indonesia, di tengah jalan paspamresnya melakukan insiden penoyoran ANAK KECIL. Kontradiktif? Pasti.
Sekarang saya mau balik tanya sama media: kalau pihak media memang peduli dengan isu-isu yang notabene memberatkan masyarakat, kenapa media juga ikut memberatkan masyarakat dengan pemberitaan isu yang ditayangkan pada jam-jam anak masih beraktivitas? Padahal tayangan itu belum layak untuk mereka. Hfff…
Ternyata yang mengkritik (baca: media) belum tentu lebih baik daripada yang dikritik (baca: pemerintah). Apa gara-gara konglomerasi media oleh politikus? Err…. No comment
Ga media, ga pemerintah, mereka selalu aja ngelakuin hal-hal yang kontraditif. Lain di ucapan, lain di perbuatan. Sekarang, adalah giliran masyarakat awam (seperti saya dan LB’ers) untuk pintar-pintar menangani masalah yang makin hari makin aneh-aneh aja.
Oiya, nasi saya sudah matang. Mari makan…
*ditulis sambil menunggu nasi putih hangat muncul”
salam


Iya. Memang ada kalanya kita harus bersuara tapi kita juga mesti tahu kapan waktunya berhenti