Featured Posts

Hash 002 : #Plot Cerita Fiksi by @WindyAriestanty Tertarik dengan pembuatan cerita fiksi? Windy Ariestanty, Editor GagasMedia, penulis Shit Happens, pagi ini berbagi tentang penulisan #Plot. Ikuti ceritanya berikut ini : Selamat pagi semua! Pagi...

Read more

Akhirnya Datang Juga Growing up is sucks. That's what I thought when I was 14, Pikiran itu muncul ketika menyaksikan lelahnya Ayah bekerja mencari nafkah, dan Ibu yang pontang-panting mengurus rumah tangga, Pak Harun,...

Read more

Conversation? What Conversation? Conversation? What Conversation? Okay, here are the facts: 90% lebih pembaca blogpost ini, akan berasal dari link yang saya post di Twitter. So, I'm assuming 90% lebih pembaca pasti sudah mengenal,...

Read more

#001 Intweetview : @Pitra Satvika a.k.a. @Anakcerdas... Pitra Satvika atau yang dulu kita kenal di jagat twitter dengan id @anakcerdas adalah salah satu orang yang berjasa mempopulerkan twitter ke Indonesia dan menjadi influencer munculnya beragam conversation...

Read more

Hash 001 : #Copywriting by @Subiakto Priosoedarsono Untuk kesempatan kali ini, Lampu Biru menampilkan catatan seputar area #copywriting di dunia advertising yang disampaikan oleh Bapak @Subiakto, Presiden Direktur Hotline Advertising melalui account Twitternya. Atas...

Read more

Rokok (*LAKNAT), Kemiskinan, Dan Generasi Yang Hilang

Posted by The Observer | Posted in PALING PENTING! | Posted on 01-12-2009

Tags: , , ,

6

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….hahahhaaa…..
Ketemu lagi…auw auw…

Sehari serasa seabad kan ya tanpa saya nongol-nongol dan menarikan jari saya di atas keyboard yang uda ga mulus ini…hihihihi

Semoga masi ada pembaca setia lampubiru yang menginginkan keberadaan saya…

Ihik ihiks…

Soooo….apa kabar? Saya punya TERLALU BANYAK cerita untuk dibagi, sampe saya bingung sendiri memilah-milah mana yang harus disimpan dalam kaleng karatan trus dibuang ke laut dan mana yang harus diumbar dan disebarluaskan.

Buat update info para pembaca yang sudah merindukan saya (*kayak ada aje..hehehe…selama ngimpi masi gratis ga apa-apa kan ciiiyn?), akirnya kaki dan seluruh badan saya pernah menetap di Belanda selama 5 hari dalam rangka perjalanan studi banding mahasiswa yang sempet menuai protes dari para petinggi PPI. Selain itu saya secara sadar dan tanpa keterpaksaan mewarnai rambut saya jadi UNGU, dua hari lagi saya akan mulai magang di salah satu perusahaan tambak udang terbesar di dunia, dan yang terakhir dan paling heboh, saya serius berpacaran sekarang. Hehehe… tepuk tangan dulu dong kenceng-kenceng…

*wink wink…

Tapi karena kehidupan saya terlalu penting untuk dimasukkan dalam artikel lampubiru yang ga penting ini, saya akan mulai menulis satu topic dari luar kehidupan saya yang entah kenapa nongol-nongol di kepala saya sejak mami saya pulang dari Koferensi Nasional Promosi Kesehatan Ke -5 di Bandung tanggal 22-25 November kemaren.

Ada apakah gerangan ama Konferensi itu?

Ga tau kesambet setan apa, saya mengambil salah satu materi yang dibawa pulang mami dari konferensi itu. Itu bener-bener ga biasa. Sangat tidak biasa kalo boleh hiperbola…

Dibuka…lalu dibaca, diserap , dan dipahami, akhirnya saya duduk dalam satu kesimpulan. Dampak kebiasaan merokok bener-bener mengerikan. Klise si, tapi jangan sedih, ada fakta-fakta yang bener-bener baru (buat saya si,,semoga baru juga buat pembaca)

Materi yang saya baca waktu itu adalah tentang Perilaku Merokok, Kemiskinan, dan Generasi Yang Hilang. Dari baca sekilas, kite-kite yang IQ nya ga jongkok-jongkok amat pasti ngarti kalo kebiasaan merokok=adiktif=beli rokok terus-terusan=uang belanja berkurang demi sebatang rokok=jatah makan anak terkurangi=gizi buruk.

Dua hal terakhir yang saya sebutin yaitu belanja rokok yang sampe dengan lebay menggasak jatah makan sang anak mungkin kedengeran kasar dan mustahil di kuping dan di mata para pembaca. Sayangnya, kenyataannya di lapangan ga pernah seindah fatamorgana dunia kecil kita (….bahasa gw selangit cuy..!)

Ternyata oh ternyata…. mereka yang tinggal di desa lebih banyak merokok daripada yang tinggal di kota (69% dan 61%), mereka yang berpendidikan rendah lebih banyak merokok dari yang berpendidikan tinggi (72% bagi yang tamat SD dan 50% bagi tamatan perguruan tinggi), dan yang paling asoy dari semua data itu adalah :

Mereka yang miskin lebih banyak yang merokok daripada yang kaya (68% dan 61%)

Saya shock… selama ini saya pikir yang suka bakar-bakar duit lewat pembakaran nikotin yang dikemas sedemikian mahal adalah kaum mahasiswa maupun pekerja yang entah pengen dianggep gaul ato demi mendapat secercah kreativitas dari pengasapan otak yang sia-sia. Kenyataannya? Justru kebalikannya…

Oh nooo…seandainya data ini bohongan. Nyatanya data ini diambil dari data Riskedas tahun 2007.

Penelitian tahun 2006 di Sukabumi nunjukin kalo belanja rokok ada di urutan paling TOP MARKOTOP (13% dari total belanja) di atas belanja kesehatan, pendidikan, dll. Bahkan dalam penelitian lain di daerah kumuh di Jakarta Utara, belanja rokok mencapai angka Rp. 210.000,00 / bulan, dan jumlah ini lebih gede dari jumlah belanja kebutuhan pokok.

Terus menurut lo anak lo kenyang kalo lo kasi makan asep rokok???

*huff…hufff… emosi melanda….

Saya sudah ga paham sama konsep berpkir para kepala rumah tangga yang kayak begitu. Sehari ngabisin rokok minimal sebungkus, sedangkan anaknya minta-minta telor ceplok n nasi aja ga dikasi. Ada anak di usia 16 bulan cuman punya bobot 7.26 kg (padahal yang normal beratnya uda 10 kg kalo umur sgitu noh) gara-gara bapaknya ga mau ngalah demi anaknya.

Angkat tangan, saya nyerah… semoga konferensi ini ga cuman sekdar jadi konferensi… semoga lancar ya kampanyenya wahai bapak-ibu pejuang promosi kesehatan! Saya dukung dengan doa kok! (semoga manjur)

Oiya,,buat para pembaca, fyi rokok dan tembakau adalah perdagangan andalan bagi pendapatan negara yang nyumbangin sektar 45 trilliun rupiah atau 10% dari total pendapatan negara. Makanya jangan heran kenapa rokok belum diharamkan…

**Btw pacar saya sekarang adalah perokok… betapa ironis ya sodara…!**

Salam,
The Observer

Comments (6)

Saya ngga suka pacar yang “cantik, sexy, sukses, baek, dan hebat di ranjang”

*Berharap supaya dapet pacar kayak yg disebutin*

itu mah ngarep!

yup..
justru ketika si bayi membutuhkan tambahan asupan susu, bapaknya dengan ENAKNYA NGEBUL NGEBULIN BAKARIN DUIT JADI ABU ROKOK!!!

well, it is just one of the wastes that we, SADAR GA SADAR, ngelakuin..

dan yang pasti, sekarang gara2 asap rokok menggila di kantor, aku udah g bisa kena asap rokok barang dikiiit aja.. tenggorokan dan dada rasanya panas.. kebakar rasanya..

dan satu..
rokok = addicted = merugikan..
huuuu.., kasian kan bayi yang butuh gizi tapi malah dibakar sama bapaknya?
itu secara ga langsung bapaknya mbakar anaknya idup2!

grrrrrrr… emosi memang melihat dunia yang udah ga bisa memprioritaskan kepentingannya!

entah menga saya malah lebih prihatin ke bapaknya..herm,,begini..
menurut saya si bapak sama menderitanya sama si anak dengan segala beban pikiran dan beban hidup yang ga bisa bisa ia kendalikan..

tapi juga..pada dasarnya permasalahan merokok bukan suatu sebab dari masalah yang dibawahnya tapi merupakan suatu akibat dari masalah yang membawanya.

begini,perokok merupakan mereka yang berbeban hidup berat, karena mereka ga punya penghasilan, mereka pengangguran dan tidak memiliki pendidikan.
untuk menyelesaikan itu ga mungkin lah pemerintah juga mengharamkan si rokok dan menyebabkan pabrik rokok gulung tikar..

pemerintah harus mengambil langkah berkesinambungan sehingga masalah tersebut teratasi. pemerintah harus memberikan penghidupan yang layak,karena mereka ga punya pekerjaan diberikan pekerjaan karena ga punya pendidikan di beri pendidikan,namun bagaimana mereka dapat mendapat pendidikan yang baik kalo mereka ga punya sekolah yang layak dan relatif dekat??

namun gimana juga donk kalo pemerintah uda mengusahakan itu tapi masyarakat nya cenderung apatis dan skeptis haduh..saya jadi bimbang saya ini maunya apa..koq saya cenderung mengaruk borok daripada mengobati borok ya??
ngik ngik..

ok,comment saya sebenernya adalah..erm,,,,,,pacar baru??erm,,,,,,ahahahaha

stujuuuuuuu!!!
stubuuhhhhhh!!!!

@ si jam emas : life is always about a choice…when he choose to smoke and neglect his son,it’s his choice.stuasi yg bikin dy addict sama smoking?well, he can choose to stop IF he want to..not easy but it’s not impossible kan yah bo…

karna permasalahannya,kalo dy bisa punya uang buat beli sebungkus rokok yang harganya 5000 sebungkus,masa mau beli telor 1rb rupiah aja ga bisa?cuman soal priorotas aja si menurut ane…ngehehhee…

dan…pacar baru?hehehe…..*kedipkedip

@nadia:apose setuju???? ni bocah…hahahaha

Write a comment