The WHO Generation
Posted by Nico | Posted in PALING PENTING! | Posted on 25-11-2009
Tags: 2010, blogger, conference, Markplus
5

Saya pertama kali mengenal istilah “Konektor”, lewat buku Tipping Point karya Malcolm Gladwell. Di sana disebutkan bahwa pada prinsipnya, ‘Connector’merupakan salah satu dari 3 komponen utama untuk mencapai Tipping Point, bersama dengan Maven, dan The Salesperson.
Kembali ke masa kini, dimana semua orang sebenarnya telah menjadi konektor bagi orang lainnya. Sebuah contoh kecil adalah ketika seseorang meng-add saya untuk menjadi teman di Facebook, yang pertama saya lihat, apabila orang tersebut tidak saya kenal, adalah mutual friends yang kami miliki bersama.
Dari sana biasanya saya dapat mendefinisikan dari kelompok pertemanan yang mana orang ini berasal. Jika saya tidak mengenalnya sama sekali, dan kami tidak memiliki mutual friends, biasanya saya akan ignore orang itu. Hal serupa juga terjadi di bisnis, bukan? Kita cenderung untuk, katakanlah, lebih cuek terhadap orang-orang yang tidak kita kenal sama sekali. Hingga mereka menyebutkan darimana mereka mengenal kita.
Saat ini, personifikasi suatu brand sudah mengalami evolusi yang luar biasa. Personal branding bukan lagi sesuatu yang eksklusif dan sulit dilakukan. Bahkan dapat dikatakan, everyone already has become a brand.
Di satu sisi, ya benar, pakar marketing dan brand pastinya mampu membaca trend ini dan mengolahnya sedemikian rupa bagi keuntungan perusahaan klien mereka. Namun yang sebenarnya menjadi fokus pertanyaan saya adalah.. Apa untungnya bagi para konektor? Apa yang membuat mereka (dan kita) ingin menjadi suatu entitas ‘promotional kit’ bagi korporasi yang besar.
Kita mengetahui bahwa saat ini ada lebih dari 12 juta user facebook yang berasal dari Indonesia. Pengguna Twitter juga tidak kalah banyak, terlihat dari cukup seringnya trending topik yang dihasilkan oleh orang Indonesia. Beberapa aplikasi web 2.0 untuk social networking lainnya pun memiliki jumlah pengguna dari Indonesia yang cukup banyak.
Namun, besarnya user yang berada di lingkup social network populer tersebut sama sekali belum dapat dikategorikan sebagai ‘Promising Market’. Ini yang masih menjadi kendala bagi advertising agency yang hendak bergerak ke arah digital promotion, khususnya secara online. Masih dibutuhkan bertahap-tahap riset dan evaluasi lebih lanjut guna menemukan ‘engaging factor’ bagi para user yang tumpah ruah ini agar menjadi market yang menjanjikan.
Kembali lagi, engaging factor itu haruslah sesuatu yang memberikan benefit memadai. Baik itu berupa materi/uang, kemudahan/priority, efisiensi, atau keuntungan-keuntungan lainnya. Dan (lagi-lagi) semua itu harus dikemas sedemikian halusnya agar tidak terkesan over expectation under result.
Apa yang dilakukan oleh Markplus melalui Markplus Conference dengan melibatkan 100 blogger menurut saya adalah suatu soft method yang cukup baik untuk ditiru. Ada reward yang didapatkan oleh para blogger dengan mensubmit tulisan mengenai New Wave Marketing di Kompas.com. Dan di sisi lain, sebagian besar blogger pasti sudah sangat fasih dengan social media dan semacamnya. Mereka lah yang akan menjadi first line-up dari online WHO Generation yang ada saat ini.
Sementara itu, secara offline, WHO Generation akan berasal dari crowd dan community. Sesuai dengan konsep New Wave, C yang pertama adalah Communitization. Namun hal tersebut akan kita bahas pada posting yang lain. Untuk saat ini, sebagai blogger, saya akan menjadi The WHO Generation dari sisi Online terlebih dahulu.
Salam.
Posting ini merupakan keikutsertaan sebagai salah satu Bloggers @ MarkPlus Conference 2010. Tulisan ini juga merupakan tanggapan atas artikel “Tantangan Konektor Sosial” New Wave Marketing pada Kompas.com

