Featured Posts

Hash 002 : #Plot Cerita Fiksi by @WindyAriestanty Tertarik dengan pembuatan cerita fiksi? Windy Ariestanty, Editor GagasMedia, penulis Shit Happens, pagi ini berbagi tentang penulisan #Plot. Ikuti ceritanya berikut ini : Selamat pagi semua! Pagi...

Read more

Akhirnya Datang Juga Growing up is sucks. That's what I thought when I was 14, Pikiran itu muncul ketika menyaksikan lelahnya Ayah bekerja mencari nafkah, dan Ibu yang pontang-panting mengurus rumah tangga, Pak Harun,...

Read more

Conversation? What Conversation? Conversation? What Conversation? Okay, here are the facts: 90% lebih pembaca blogpost ini, akan berasal dari link yang saya post di Twitter. So, I'm assuming 90% lebih pembaca pasti sudah mengenal,...

Read more

#001 Intweetview : @Pitra Satvika a.k.a. @Anakcerdas... Pitra Satvika atau yang dulu kita kenal di jagat twitter dengan id @anakcerdas adalah salah satu orang yang berjasa mempopulerkan twitter ke Indonesia dan menjadi influencer munculnya beragam conversation...

Read more

Hash 001 : #Copywriting by @Subiakto Priosoedarsono Untuk kesempatan kali ini, Lampu Biru menampilkan catatan seputar area #copywriting di dunia advertising yang disampaikan oleh Bapak @Subiakto, Presiden Direktur Hotline Advertising melalui account Twitternya. Atas...

Read more

Terima Kasih Teroris (Thank You Terrorist)

Posted by Nico | Posted in Penting aja | Posted on 03-08-2009

Tags: , , ,

8

Pertama-tama, redaksi Lampu Biru mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya bagi korban Bom Kuningan II yang meletus pada 17 Juli 2009 yang lalu. Tulisan ini tidak dibuat untuk memperolok, mendiskreditkan, maupun menertawakan pihak mana pun.

Jika sebagian atau seluruh artikel ini dinyatakan menyinggung salah satu pihak, redaksi akan mempertimbangkan untuk menarik kembali tulisan ini.

You know…

Selama ini ternyata saya punya pola berpikir yang terbalik. Sejak kecil saya (dan mungkin sebagian dari Anda) selalu diajarkan untuk berbuat “benar”, membela yang “benar”, mengikuti yang “benar”, sampai hanya boleh menyembah yang “benar”.

Familiar dengan quote berikut ini?

Berani karena Benar, Takut karena Salah

Siapa jenius yang menciptakan quote itu, anyway?

I called him/her genius, cause in a way, ia berhasil menyemangati orang-orang untuk berani mengemukakan dan berbuat benar. Namun di sisi lain, ia juga berhasil menghantui orang untuk takut melakukan kesalahan. Efek lanjutannya? Orang pun jadi takut mengakui bahwa mereka (atau kita) bersalah. See the point?

Jika berbuat salah saja takut, bagaimana bisa belajar dari kesalahan?

Yaaa… Ini bukan ajaran sesat lah. Paling tidak, saya nggak meminta pembaca sekalian jungkir balik sambil mengucapkan mantra-mantra tertentu.. hehe. Kesalahan, sama halnya dengan Kebenaran, sebenarnya adalah sesuatu yang relatif.

Relatif berdasarkan sudut pandang yang melihat. Nah… Teroris, adalah mereka yang tidak mampu menyadari akan konsep ini. Mungkin (karena saya bukan / belum jadi teroris) bagi mereka, hanya ada satu kebenaran yang absolut. Mutlak, tidak dapat diganggu gugat!

Itu cuma asumsi lhoo :D

Mirip deh sama anak-anak yang baru pulang nonton, trus kita tanyain, “Bagus nggak filmnya?” dan sebagian dari mereka menjawab, “Bagus banget”, sebagian berkata, “Biasa aja”. Kemudian kelompok yang bagus banget menyerang yang biasa aja. Kira-kira seperti itu, cuma equipment nya yang beda. Padahal kalo dipikir-pikir, filmnya ya sama tho?

Rasanya… Lebih menyenangkan belajar dan membicarakan tentang kesalahan daripada kebenaran. Stuju? Brapa banyak yang inget pidatonya Pak Kepala Sekolah jika ia pidato hal-hal yang benerrrr melulu?

“Anak-anakku, rajin-rajin lah belajar supaya menjadi orang yang berguna…”
(booooo… riiiinggg)

Coba deh kalo misalkan suatu hari pas upacara, di depan dia pidato begini :

“Anak-anakku sekalian, semalem Bapak ke lokalisasi nyobain stok baru…”

Pasti bakal Gerrr kan? Tapi jangan lupa dilanjutin :

“…konon mereka nyari stok baru dari anak-anak sekolah yang ga suka bikin PR”

See?

It’s the point, it’s memorable, and it’ll make him lose his jobs. Why?

Because it’s Wrong.

We can learn so much from mistakes. Omong-omong soal mistakes, baru-baru ini saya melakukan kesalahan dengan membuat lebih dari setengah audience talkshow meninggalkan ruangan sebelum saya mulai presentasi. Dan kejadian itu membuat saya belajar… A LOT. Salah satunya adalah “Jangan pernah meminta audience untuk pindah ruangan.” That’s stupid >.<

Anyway,

Sudah terlalu jauh korelasi antara judul sama isi tampaknya. Let’s back to topic. Kenapa saya berterima kasih kepada para teroris? Kebetulan ternyata ada posting blog berjudul mirip di http://bit.ly/4afH40

Konsep post tersebut sebenarnya mirip dengan post ini. Melalui suatu tindakan yang

- Benar menurut para teroris, dan

- Salah menurut society pada umumnya.

Mereka telah berhasil meningkatkan rasa persatuan dan keberanian dari Bangsa Indonesia. Meskipun impactnya belum terlalu besar, namun bisa dibilang ini adalah salah satu momen bersejarah dimana rasa kesatuan sebagai bagian dari Bangsa Indonesia untuk menyatakan perang terhadap terorism, terbentuk.

Tanpa mengurangi rasa berduka cita bagi para korban dan keluarga yang mereka tinggalkan, mungkin kata-kata di atas terdengar agak lebay. Namun selama 64 tahun Indonesia merdeka, baru saat ini ada gerakan-gerakan seperti “Indonesia Unite”, “Merah Putih”, dan semacamnya bermunculan. Coba search “Indonesia Unite” di facebook. Ada +/- 20 group yang terbentuk menggunakan nama yang sama. Apa ini tandanya bakal ada Sumpah Pemuda kedua? Who knows? :)

Yak ngayalnya distop dulu.

Ngemeng-ngemeng, mau tau pendapat berbagai lapisan masyarakat terhadap bom yang meledak kemarin? Mari kita dengarkan bersama…

“Iya yah, ngeri, untung saya cuma jualan nasi goreng. Pedes ato biasa Mas?”
Tukang Nasi Goreng, Grogol – Jakarta Barat

“Wah imbasnya besar, saya tanya ke sesama pengemudi, pelanggan menurun. Bajingan itu pembom”
Taxi Driver with Batak Dialek – Jakarta

“Kayaknya kali ini para teroris itu cuma gigit jari. Nggak ada efeknya ah. Hari pas pemboman itu saya berangkat koq naik pesawat, ketemu bule-bule, mereka biasa aja kayak mo liburan. Ngga terlihat bakal eksodus tuh.”
PR Executive Salah satu brand ternama – Jakarta

“I don’t really feel afraid because of the bomb. I have gone through worse situation before, I was in Yogya during the earthquake attack. But most of our embassy representative is fine and could endure the traumatized experience”
Neighbour Country’s Representative – Kuningan, Jakarta

“Ha? Ada bom? Dimana? Kapan? Koq gue ngga tau?”
Temen dekat yang kerja di luar negeri – Via Chatting

Aha! That means two thing, First, temen saya nggak pernah nonton berita and secondly, Terorrist have failed to cause chaoz, instead they made us unite even more! Makanya saya berterima kasih pada mereka. Memang sih ironis, negara segini besar baru bisa nyatu ketika muncul ledakan dan ada bangsa lain yang nyoba-nyoba nyolong budaya kita (cari mati apa mereka?). It’s a start anyway :)

Ya sudahlah, pesanan nasi goreng udah selesai. Seru juga ngomongin terorisme bersama Profesional Nasi Goreng Maker malam ini. Dia pun titip terima kasih buat para teroris.

Mari makann!!