Makin Banyak Persoalan = Makin Banyak Jawaban?
Posted by Nico | Posted in Rame Rame | Posted on 23-11-2010
Tags: Indonesia, internet, social media, Twitter
0
“Gimana caranya masukin gajah ke dalam kulkas?”
Buat generasi yang tumbuh di era pra-blackberry, bahkan pra-handphone seperti saya.. Pertanyaan semacam ini bukanlah sesuatu yang asing terdengar sehari-hari.
Meskipun jawaban-jawaban dari pertanyaan semacam ini rata-rata absurd, namun itulah 3 menit hiburan yang mampu mengakrabkan satu orang dengan yang lainnya di generasi kami.
Lalu, apakah ada Credit bagi yang pertama kali menciptakan teka-teki semacam itu? Hingga saat ini, saya bahkan tidak tahu sama sekali.
Humor itu alami, jujur, dan milik semua orang. Baru kemarin saya membaca artikel di sini bahwa tertawa itu refleks spontan, sementara menangis butuh proses. Jadi, mungkin, para penemu teka-teki dan jokes merasa tidak perlu menambahkan ‘copyright’ atau ‘trademark’ ke dalam temuan mereka. Selama hal tersebut berhasil membuat orang lain tertawa, itu sudah lebih dari cukup.
Kita, masyarakat urban yang sehari-harinya dihimpit oleh berbagai tekanan pekerjaan, infrastruktur kota yang amburadul, hingga persoalan-persoalan pribadi, adalah manusia-manusia yang paling banyak butuh hiburan. Dan di dalam dunia hiburan, tertawa adalah candu.
Konsep yang sama berlaku di Twitter.
Jangan heran, jika sebagian besar account yang kita follow adalah account-account yang mampu menghibur kita, atau setidaknya mampu menghasilkan senyum kecil di tengah sibuknya beraktivitas.
Sehingga jangan heran pula, jika account para ‘pelawak digital’ rata-rata memiliki follower dan influence yang besar di twitter. Tidak hanya itu, tweet-tweet absurd, aneh, dan lucu yang mereka tampilkan sehari-hari mendapatkan komposisi Retweet yang tidak sedikit dari para followernya.
Fenomena #SoalSoal
Umumnya, orang akan kesal jika diberi beragam persoalan bukan?


